Komunitas dan Kulit Kacang

Komunitas baik offline maupun online tidak terhitung jumlahnya. Yang terdata aja bisa ratusan bahkan ribuan belum lagi yg tida terdata. Komunitas sendiri adalah sekumpulan orang2 yg biasanya berasal dari satu daerah atau sekumpulan orang-orang dengan satu kesamaan misal hobi, tujuan bahkan sifat dirinya. Anggota dari sebuah komunitas bisa siapa aja asal ada kesamaan dalam satu tujuan pokok komunitas itu berdiri. Misalkan komunitas blogger sebuah daerah, anggotanya bisa siapa saja, bisa profesi apa saja, bisa berjenis kelamin laki, perempuan bahkan setengah laki setengah perempan bahkan bisa keluarga, kerabat atau tetangga asalkan dia berada di satu daerah dan menyandang gelar blogger.

Kembali lagi ke komunitas dan kulit kacang. Dari apa yang saya lihat dan saya analisa secara otoriter dan semau saya, komunitas bisa diibaratkan kulit kacang. Kenapa kulit kacang? Secara garis besar komunitas offline dan online layaknya sebuah kacang dimana kulit kacang menjadi penentunya. Bingung? ok saya akan jelaskan menurut penjelasan pribadi saya dan lagi2 secara otoriter.

Komunitas Offline

Layaknya sebuah kacang, biasanya komunitas offline seperti kacang tanpa kulit. Isi langsung terlihat jelas karena pada dasarnya mereka lebih suka menunjukkan “isi” mereka daripada mempermanis kulitnya. Bentuk dan ukuran serta warna mereka itu yg mereka jual. Masyarakat akan bisa melihat langsung mana komunitas yang bagus dan mana komunitas yang kurang bagus. Pihak sponsor juga dengan mudah untuk memilih mana komunitas yang akan mereka “pakai” untuk menjalankan program kerja mereka baik promosi maupun berbagi. Tanpa embel2 publikasi dan pengakuan eksistensi, mereka tetap semangat berkegiatan. Urusan diakui eksistensinya dan publikasi biasanya itu mereka serahkan sepenuhnya kepada penilaian masyarakat dimana mereka berkegiatan.

Komunitas Online

Nah, layaknya kacang, komunitas online seperti kacang yang tetap mempertahankan kulitnya. Beda dengan komunitas offline yang lebih mengutamakan isinya, kalo komunitas online lebih mengutamakan kulitnya. Tidak semua komunitas sih, tapi sebagian besar. Layaknya sebuah kacang kulit, dimana kulitnya terlihat bersih, bagus, indah, dan menarik untuk dinikmati. Eiiits… jangan terburu-buru dulu, kulit yang indah, bersih dan menarik itu belum tentu isinya enak untuk dimakan. Kacang yang ukurannya terlihat besar, bersih, dan bagus beum tentu isinyaenak untuk dimakan. Kulit kacang bukan ukuran dari isi kacang itu sendiri. Kacang dengan ukuran besar dan bersih belum tentu isinya besar, bisa saja isinya kecil, kosong bahkan busuk. Komunitas online itu layaknya kacang dengan kulitnya dimana yang dijual biasanya adalah tampilan kulitnya. Soal isi hanya kacang dan Tuhan yang tau :p

jadi kesimpulannya adalah, biasanya komunitas besar di offline jika masuk ke dunia online mereka akan gampang untuk menjadi besar karena pada dasarnya mereka sudah besar baik secara kegiatan maupun secara pengakuan masyarakat. Sedangkan komunitas besar di online belum tentu bisa besar di offline karena komunitas online biasanya besar karena publikasi dan eksistensi secara maya, bukan realita atau dalam istilah jadulnya kegiatan semu.

Sekali lagi tidak semua komunitas offline maupun online seperti itu, tapi sebagian besar memang seperti itu. Gak percaya?

Gambar diambil dari http://www.socialmediaexaminer.com